Jumat, 09 Januari 2015

Review Film Dangerous Mind

Calva Ananta Dominikus Matutina
13301241061 / Pendidikan Matematika Inter 2013

Review Film Dangerous Mind
Film ini dilatarbelakangi oleh situasi sebuah sekolah (Parkmount High School) di suatu kota yang membutuhkan seorang tenaga pendidik. Mrs. Louane Johnson datang sebagai calon guru yang akan mengajar di Parkmount High School. Pada awalnya, ia dijanjikan akan mengajar murid-murid yang jenius dan cerdas. Dengan mengingat janji tersebut, ia masuk ke kelas dan pada kenyataannya, Bu Johnson menemukan kondisi yang sangat berbeda dengan yang telah dijanjikan. Ia berhadapan dengan murid-murid dari berbagai macam ras dengan berbagai masalah kehidupan yang begitu kompleks. Untuk mendapatkan perhatian dari muridnya saja merupakan hal yang sangat susah untuk didapatkan, bahkan ia mengalami digoda oleh muridnya sendiri yang bernama Emilio. Mulai saat itu, Bu Johnson berusaha mencari cara agar ia bisa mendapatkan perhatian dari para muridnya, salah satunya dengan mengajarkan karate yang mungkin akan lebih diminati oleh para muridnya.
Untuk meningkatkan antusiasme muridnya dalam mempelajari puisi, ia pun memberikan hadiah bagi murid yang dapat dengan benar menjawab pertanyaan di dalam kelas. Mulai saat itu, setiap murid di kelas bu Johnson pun semakin antusias dalam belajar di kelas. Walau tak jarang pula bu Johnson ditegur oleh atasannya di sekolah, ia tetap bersikukuh untuk tetap pada pendekatan yang telah dilakukannya sejak awal.
Semakin mendekati akhir semester, bu Johnson pun semakin dekat dengan para muridnya dan mulai mengenal permasalahan-permasalahan yang dialami oleh murid-muridnya. Permasalahan yang dialami oleh Raul, Durrel, Emilio, dan yang lainnya semakin menantang bu Johnson untuk membantu mereka menyelesaikannya. Mulai dari kasus Raul yang berkelahi dengan Emilio sehingga harus diskors oleh sekolah. Kemudian masalah Callie yang hamil dan akan pindah sekolah. Pada suatu saat, Emilio pun memiliki masalah yang berujung pada kematian Emilio sendiri. Hal ini sangatlah memukul hati bu Johnson yang merasa tak bisa menolong Emilio menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, bu Johnson memutuskan untuk berhenti mengajar untuk semester selanjutnya.
Kepindahan bu Johnson pu membuat para murid yang sudah terlanjur nyaman dekat dengan bu Johnson menjadi gusar hatinya. Mereka tak mau kehilangan bu Johnson yang mereka rasa telah dapat mendidik mereka dengan benar. Pada hari kepindahan bu Johnson, Callie yang cuti untuk ‘hamil’ pun masuk kembali ke kelas demi membujuk bu Johnson agar tak berhenti mengajar di kelas mereka. Dengan segala pertimbangan yang telah dipikirkan, akhirnya bu Johnson membatalkan keputusannya untuk berhenti mengajar di Parkmount High School. Ia menyadari bahwa masih ada murid-murid yang sangat membutuhkannya di sekolah tersebut. Bukan karena mereka yang telah tak ada, yang perlu diberi perhatian, namun mereka yang hadir di sekitar kita lah yang membutuhkan bantuan dan bimbingan.

1.      Behaviorisme
Teori Behaviorisme / Behavioristik ini berkaitan dengan proses belajar yang menempatkan pembelajar sebagai bagian pasif yang butuh bimbingan dan pembiasaan agar menghasilkan tingkah laku (hasil belajar) yang baik. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peranan orang dewasa, suka mengulangi, dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian (Sugihartono, 2007:104). Dalam Film Dangerous Mind ini, Ibu Johnson menerapkan teori ini dalam kesempatannya mendidik siswa-siswi di Parkmount High School. Langkahnya untuk semakin dikenal dan diapresiasi oleh muridnya adalah dengan memberikan hadiah / reward sebagai imbalan bagi murid yang menjawab dengan benar atau sesuai dengan aturan yang diberlakukan.

2.      Humanisme
Teori humanisme memiliki tujuan yang seringkali disebut dengan “memanusiakan manusia”. Maka, dalam pembelajaran, teori ini memperlihatkan pelajar sebagai subjek yang perlu dikembangkan dan dididik sesuai dengan potensi serta harkat dan martabatnya.
Dalam film ini, Mrs. Johnson pun menerapkan teori ini melalui pendidikannya di kelas. Dengan kemampuannya dalam sastra, ia mengajarkan puisi kepada murid-muridnya. Dan ia selalu meminta setiap muridnya untuk mengartikan / memaknai puisi-puisi tersebut sesuai dengan interpretasi setiap murid. Selain itu, materi-materi pengajarannya di kelas juga dikaitkan langsung dengan masalah yang dihadapi oleh muridnya, sehingga muridnya pun belajar bagaimana menghadapi masalah di sekitar mereka. Dengan begitu, pendidikan yang mereka alami pun menjadi kontekstual dengan kehidupan mereka.

3.      Konstruktivisme
Dalam teori konstruktivisme ini, pendekatan yang dilakukan lebih ditekankan pada pemahaman pelajar terhadap suatu masalah dan dapat mencari solusinya dengan sesuai dengan pemaknaan dari pelajar tersebut. Ahli psikologi konstruktivis berpendapat bahwa proses pemerolehan pengetahuan adalah melalui penstrukturan kembali struktur kognitif yang telah dimiliki agar bersesuaian dengan pengetahuan yang akan diperoleh sehingga pengetahuan itu dapat diadaptasi (Sugihartono, 2007:127).

Ibu Johnson merupakan guru yang memiliki semangat yang tinggi untuk mengembangkan anak didiknya di Parkmount High School. Dengan banyaknya dan rumitnya permasalahan hidup yang dialami oleh setiap anak didiknya, Bu Johnson senantiasa mencari cara agar dapat membantu muridnya untuk menyelesaikannya. Sesuai dengan teori konstruktivisme, Bu Johnson selalu memberikan materi-materi yang dapat membangun konsep pemahaman muridnya dan melalui kontes Dylan-Dylan, Bu Johnson mempersilahkan murid-muridnya untuk menyelesaikannya sesuai dengan apa yang telah mereka pelajari selama satu semester bersama Bu Johnson. Hal tersebut menunjukkan bagaimana teori konstruktivisme ini berjalan, di mana murid berusaha mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi dengan pengetahuan dan pemahaman yang telah mereka bangun dan miliki.