Selasa, 23 Februari 2016

Identifikasi Etnomatematika



Calva Ananta Dominikus Matutina
13301241061 / Pendidikan Matematika Internasional 2013

Identifikasi Etnomatematika dalam Budaya Sekitar
Etnomatematika di Indonesia telah berkembang, salah satunya karena penelitian dan pengembangan yang dilakukan baik oleh matematikawan maupun pakar yang lainnya. Melalui penelitian, bentuk etnomatematika dapat disaksikan secara nyata dalam budaya yang ada di sekitar kita. Dalam proses penelitian dan pengembangan, langkah awal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah dengan melakukan identifikasi.
Identifikasi etnomatematika merupakan kegiatan mengamati aspek-aspek etnomatematika yang diterapkan dalam budaya di sekitar kita. Objek pengamatan terdiri dari masyarakat sekitar atau masyarakat luas. Kemudian, objek yang diamati dapat berupa benda mati, bergerak, ativitas sosial, adat, tradisi, dan hal lainnya yang terkait etnomatematika dan muncul dalam budaya masyarakat. Seperti yang saya pahami dalam perkuliahan etnomatematika bersama Prof. Marsigit, bahwa ciri-ciri etnomatematika adalah kontekstual. Kontekstual terdiri dari dua hal yaitu, “terdiri” dan “kesiapan belajar”. Hal inilah yang dijadikan dasar mengapa etnomatematika diperlukan sebagai suatu sarana pembelajaran yang kontekstual, sehingga membantu siswa pemahaman dan kesiapan belajar siswa.
Setelah mencari di beberapa sumber, saya menemukan sebuah contoh etnomatematika yang termasuk dalam budaya masyarakat sekitar dan berbentuk tradisi. Contoh tersebut adalah Teknik Perhitungan Hari Peringatan Kematian. Dalam budaya Jawa, biasanya terdapat peringatan bagi orang yang sudah meninggal. Biasanya peringatan tersebut dilakukan pada 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, sampai 1000 hari kematiannya. Sistem kalender Jawa memakai dua siklus hari : siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Lima hari pasaran tersebut terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. P,ara sesepuh Jawa ternyata memiliki cara tersendiri, sehingga dapat menentukan hari peringatan kematian dengan lebih cepat dan efisien. Dalam perhitungan harinya digunakan modulo 7, dan dalam perhitungan pasarannya digunakan modulo 5. 

Hari ke-
Cara menghitung hari
Cara menghitung Pasaran
Perhitungan Hari
Rumus hari
Perhitungan Pasaran
Rumus Pasaran
3
3
1+(2 mod 7)=1+2
3
1+(2 mod 5)=1+2
7
7
1+(6 mod 7)=1+6
2
1+(6 mod 5)=1+1
40
5
1+(39 mod 7=1+4
5
1+(39 mod 5)=1+4
100
2
1+(99 mod 7)=1+1
5
1+(99 mod 5)=1+4
1000
6
1+(999 mod 7)=1+5
5
1+(999 mod 5)=1+4

Misalkan si A meninggal pada hari Senin Wage, maka cara menghitung penentuan hari peringatan kematiannya adalah sebagai berikut :
Hari ke-
Cara menghitung hari
Cara menghitung Pasaran
Rumus Hari
Jatuh pada hari
Rumus Pasaran
Jatuh pada hari
3
Senin + 2
Rabu
Wage + 2
Legi
7
Senin + 6
Minggu
Wage + 1
Kliwon
40
Senin + 4
Jumat
Wage + 4
Pon
100
Senin + 1
Selasa
Wage + 4
Pon
1000
Senin + 5
Sabtu
Wage + 4
Pon

Maka peringatan si A yaitu :

  •   Tiga (3) harinya pada hari Rabu Legi
  •   Tujuh (7) harinya pada hari Minggu Kliwon
  •   Empat puluh (40) harinya pada hari Jumat Pon
  •   Seratus (100) harinya pada hari Selasa Pon
  •   Seribu (1000) harinya pada hari Sabtu Pon
Demikianlah identifikasi etnomatematika dalam budaya Jawa yang dapa saya sampaikan. Dalam pembelajaran matematika, hal tersebut dapat digunakan sebagai salah satu contoh Sisa Pembagian Bilangan Bulat Positif. Dengan begitu, diharapkan siswa (khususnya di daerah Jawa) akan lebih memahami materi mengenai sisa pembagian dengan contoh yang kontekstual tersebut.

Selasa, 16 Februari 2016

Etnomatematika ; Matematika dalam Budaya


Calva Ananta Dominikus Matutina

13301241061

Pendidikan Matematika Inter 2013

Matematika dalam Budaya

Kuliah etnomatematika merupakan hal yang baru bagi saya. Melihat dari istilah ‘etnomatematika’, salah satu hal yang secara spontan langsung terlintas di benak saya adalah kata budaya. Tentu akhirnya saya mengartikannya sebagai Matematika dalam Budaya. Dan terdapat beberapa hal penting terkait etnomatematika yang perlu dipahami agar etnomatematika dapat menjadi wawasan baru yang  akan berguna bagi dunia pendidikan terkhusus di Indonesia.
Setelah mencari beberapa referensi, istilah etnomatematika diperkenalkan oleh D’Ambrosio, seorang matematikawan Brasil pada tahun 1977. Secara istilah, etnomatematika diartikan sebagai : “The mathematics which is practiced among identifiable cultural groups such as national- tribe societies, labour groups, children of certain age brackets and professional classes”. Jika diartikan, maka kurang lebih artinya adalah : “Matematika yang dipraktekkan di antara kelompok budaya yang diidentifikasi sebagai masyarakat nasional suku, kelompok buruh, anak-anak dari kelompok usia tertentu, dan kelas profesional” (D’Ambrosio, 1985). Etnomatematika memiliki kajian yang sangat luas seperti contohnya, arsitektur, pertanian, adat, spiritualitas, dan lain-lainnya. Ranah etnomatematika pun meliputi inovasi, penelitian, kolaborasi, elaborasi, perspektif global, dan lain-lainnya. Melihat peran yang cukup besar ini, tentu kebutuhan masyarakat akan pembelajaran matematika yang kontekstual akan lebih tercukupi. Sehingga, etnomatematika pun juga disebut sebagai pembelajaran matematika berbasis budaya.
Salah satu kata kunci yang erat kaitannya dengan pemahaman akan etnomatematika adalah “Mindset” (Pola Berpikir). Sebagai sebuah pembelajaran berbasis budaya, etnomatematika bukanlah ilmu yang digunakan untuk guru semata-mata mengajarkan matematika kepada siswa dalam basis budaya. Lebih dari itu, etnomatematika merupakan innovative learning yang lebih mengutamakan kedalaman matematika sebagai suatu ilmu yang muncul dalam budaya yang ada di sekitar kita, yaitu budaya Indonesia. Etnomatematika diposisikan sebagai jembatan antara matematika dan budaya, sehingga dengan ini diharapkan pemahaman siswa akan matematika akan lebih mudah karena terkait budaya yang ada di sekitar mereka.
Seperti yang telah saya jabarkan di atas, bahwa etnomatematika merupakan pembelajaran berbasis budaya. Tentu terdapat alasan mendasar, mengapa etnomatematika dibutuhkan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Alasan tersebut terletak pada kebutuhan siswa terhadap pendekatan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual dengan basis budaya. Hal tersebut merupakan alasan utama, mengapa muncul etnomatematika dalam dunia pendidikan di Indonesia. Memang, etnomatematika merupakan hal yang cukup baru di Indonesia. Pembelajaran etnomatematika muncul di Indonesia baru kurang lebih 10 tahun belakangan. Sehingga dibutuhkan penelitian lebih mendalam agar pembelajaran etnomatematika dapat dikembangkan dalam dunia persekolahan. Tentu saja perlu diingat bahwa etnomatematika tidak semata-mata hanya sebagai bahan bagi guru untuk menyampaikan materi matematika di sekolah. Kajian etnomatematika yang luas, memberi dampak bagi para matematikawan untuk melakukan riset dan pengembangan matematika dalam budaya. Sehingga, banyak aspek selain pendidikan yang dapat dikembangkan melalui etnomatematika ini.
Indonesia yang dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman budaya yang tinggi, tentu menjadi sarana yang sangat luas agar etnomatematika dapat dikembangkan. Dalam budaya yang ragam tersebut, ada beberapa hal yang dapat digunakan sebagai pengembangan pembelajaran matematika. Budaya tersebut dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengembangkan konten (materi pembelajaran) matematika. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai sarana pengembangan RPP, silabus, metode, pendekatan pembelajaran matematika.
Penerapan etnomatematika sebagai pembelajaran matematika berbasis budaya tentu menjadi salah satu langkah pemerintah dalam dunia pendidikan agar matematika dapat lebih mudah dipahami. Sebagai matematikawan (dalam hal ini sebagai calon guru) yang tidak hanya terbatas pada pengajaran, kita perlu memahami bagaimana mengembangkan etnomatematika. Tahapan awal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi budaya yang ada di sekitar kita. Apa saja budaya yang dapat dikaitkan dengan konsep dalam matematika, menjadi bahan yang sesuai untuk mengembangkan etnomatematika. Tahapan selanjutnya adalah mengoperasikan konsep matematika yang sesuai dengan budaya tersebut. Dua tahapan tersebut menjadi langkah bagi kita agar dapat mengembangkan etnomatematika, terkhusus dengan budaya yang kita miliki di Indonesia.
Sebagai sebuah harapan, etnomatematika dijadikan sebagai batu pijakan bagi mereka yang mempelajari konsep-konsep matematika. Konsep matematika dapat digambarkan sebagai hal yang absurd, namun ketika dikaitkan dengan budaya melalui etnomatematika, maka hal yang absurd tadi dijabarkan dalam hal yang lebih konkret bagi masyarakat. Matematika yang seringkali dianggap susah, membingungkan, bahkan tabu bagi beberapa orang, dapat dijabarkan dalam budaya yang sudah kita kenal, budaya yang telah mengiringi perjalanan hidup kita. Sehingga, etnomatematika merupakan prinsip ideal, di mana pembelajaran matematika dapat berjalan lebih indah dan menyenangkan serta lebih mudah dipahami oleh pembelajar.