Calva Ananta
Dominikus Matutina
13301241061 /
Pendidikan Matematika Internasional 2013
Identifikasi Etnomatematika dalam
Budaya Sekitar
Etnomatematika di
Indonesia telah berkembang, salah satunya karena penelitian dan pengembangan
yang dilakukan baik oleh matematikawan maupun pakar yang lainnya. Melalui
penelitian, bentuk etnomatematika dapat disaksikan secara nyata dalam budaya
yang ada di sekitar kita. Dalam proses penelitian dan pengembangan, langkah
awal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah dengan melakukan identifikasi.
Identifikasi
etnomatematika merupakan kegiatan mengamati aspek-aspek etnomatematika yang
diterapkan dalam budaya di sekitar kita. Objek pengamatan terdiri dari
masyarakat sekitar atau masyarakat luas. Kemudian, objek yang diamati dapat
berupa benda mati, bergerak, ativitas sosial, adat, tradisi, dan hal lainnya
yang terkait etnomatematika dan muncul dalam budaya masyarakat. Seperti yang
saya pahami dalam perkuliahan etnomatematika bersama Prof. Marsigit, bahwa
ciri-ciri etnomatematika adalah kontekstual. Kontekstual terdiri dari dua hal
yaitu, “terdiri” dan “kesiapan belajar”. Hal inilah yang dijadikan dasar
mengapa etnomatematika diperlukan sebagai suatu sarana pembelajaran yang
kontekstual, sehingga membantu siswa pemahaman dan kesiapan belajar siswa.
Setelah mencari di
beberapa sumber, saya menemukan sebuah contoh etnomatematika yang termasuk
dalam budaya masyarakat sekitar dan berbentuk tradisi. Contoh tersebut adalah
Teknik Perhitungan Hari Peringatan Kematian. Dalam budaya Jawa, biasanya
terdapat peringatan bagi orang yang sudah meninggal. Biasanya peringatan
tersebut dilakukan pada 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, sampai 1000 hari
kematiannya. Sistem kalender Jawa memakai dua siklus hari : siklus mingguan
yang terdiri dari tujuh hari dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5
hari pasaran. Lima hari pasaran tersebut terdiri dari Legi, Pahing, Pon,
Wage, Kliwon. P,ara sesepuh Jawa ternyata memiliki cara tersendiri,
sehingga dapat menentukan hari peringatan kematian dengan lebih cepat dan
efisien. Dalam perhitungan harinya digunakan modulo 7, dan dalam perhitungan
pasarannya digunakan modulo 5.
Hari ke-
|
Cara menghitung hari
|
Cara menghitung Pasaran
|
||
Perhitungan Hari
|
Rumus hari
|
Perhitungan Pasaran
|
Rumus Pasaran
|
|
3
|
3
|
1+(2 mod 7)=1+2
|
3
|
1+(2 mod 5)=1+2
|
7
|
7
|
1+(6 mod 7)=1+6
|
2
|
1+(6 mod 5)=1+1
|
40
|
5
|
1+(39 mod 7=1+4
|
5
|
1+(39 mod 5)=1+4
|
100
|
2
|
1+(99 mod 7)=1+1
|
5
|
1+(99 mod 5)=1+4
|
1000
|
6
|
1+(999 mod 7)=1+5
|
5
|
1+(999 mod 5)=1+4
|
Misalkan si A meninggal pada hari Senin Wage, maka
cara menghitung penentuan hari peringatan kematiannya adalah sebagai berikut :
Hari ke-
|
Cara menghitung hari
|
Cara menghitung Pasaran
|
||
Rumus Hari
|
Jatuh pada hari
|
Rumus Pasaran
|
Jatuh pada hari
|
|
3
|
Senin
+ 2
|
Rabu
|
Wage
+ 2
|
Legi
|
7
|
Senin
+ 6
|
Minggu
|
Wage
+ 1
|
Kliwon
|
40
|
Senin
+ 4
|
Jumat
|
Wage
+ 4
|
Pon
|
100
|
Senin
+ 1
|
Selasa
|
Wage
+ 4
|
Pon
|
1000
|
Senin
+ 5
|
Sabtu
|
Wage
+ 4
|
Pon
|
Maka peringatan si A yaitu :
- Tiga (3) harinya pada hari Rabu Legi
- Tujuh (7) harinya pada hari Minggu Kliwon
- Empat puluh (40) harinya pada hari Jumat Pon
- Seratus (100) harinya pada hari Selasa Pon
- Seribu (1000) harinya pada hari Sabtu Pon
Demikianlah
identifikasi etnomatematika dalam budaya Jawa yang dapa saya sampaikan. Dalam pembelajaran
matematika, hal tersebut dapat digunakan sebagai salah satu contoh Sisa
Pembagian Bilangan Bulat Positif. Dengan begitu, diharapkan siswa (khususnya di
daerah Jawa) akan lebih memahami materi mengenai sisa pembagian dengan contoh
yang kontekstual tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar