Calva Ananta Dominikus Matutina
13301241061
Pendidikan
Matematika Inter 2013
Matematika dalam Budaya
Kuliah
etnomatematika merupakan hal yang baru bagi saya. Melihat dari istilah ‘etnomatematika’,
salah satu hal yang secara spontan langsung terlintas di benak saya adalah kata
budaya. Tentu akhirnya saya mengartikannya sebagai Matematika dalam Budaya. Dan
terdapat beberapa hal penting terkait etnomatematika yang perlu dipahami agar
etnomatematika dapat menjadi wawasan baru yang
akan berguna bagi dunia pendidikan terkhusus di Indonesia.
Setelah
mencari beberapa referensi, istilah etnomatematika diperkenalkan oleh D’Ambrosio,
seorang matematikawan Brasil pada tahun 1977. Secara istilah, etnomatematika
diartikan sebagai : “The mathematics
which is practiced among identifiable cultural groups such as national- tribe
societies, labour groups, children of certain age brackets and professional
classes”. Jika diartikan, maka kurang lebih artinya adalah : “Matematika
yang dipraktekkan di antara kelompok budaya yang diidentifikasi sebagai
masyarakat nasional suku, kelompok buruh, anak-anak dari kelompok usia
tertentu, dan kelas profesional” (D’Ambrosio, 1985). Etnomatematika memiliki
kajian yang sangat luas seperti contohnya, arsitektur, pertanian, adat,
spiritualitas, dan lain-lainnya. Ranah etnomatematika pun meliputi inovasi,
penelitian, kolaborasi, elaborasi, perspektif global, dan lain-lainnya. Melihat
peran yang cukup besar ini, tentu kebutuhan masyarakat akan pembelajaran
matematika yang kontekstual akan lebih tercukupi. Sehingga, etnomatematika pun
juga disebut sebagai pembelajaran matematika berbasis budaya.
Salah
satu kata kunci yang erat kaitannya dengan pemahaman akan etnomatematika adalah
“Mindset” (Pola Berpikir). Sebagai
sebuah pembelajaran berbasis budaya, etnomatematika bukanlah ilmu yang
digunakan untuk guru semata-mata mengajarkan matematika kepada siswa dalam
basis budaya. Lebih dari itu, etnomatematika merupakan innovative learning yang lebih mengutamakan kedalaman matematika
sebagai suatu ilmu yang muncul dalam budaya yang ada di sekitar kita, yaitu
budaya Indonesia. Etnomatematika diposisikan sebagai jembatan antara matematika
dan budaya, sehingga dengan ini diharapkan pemahaman siswa akan matematika akan
lebih mudah karena terkait budaya yang ada di sekitar mereka.
Seperti
yang telah saya jabarkan di atas, bahwa etnomatematika merupakan pembelajaran
berbasis budaya. Tentu terdapat alasan mendasar, mengapa etnomatematika
dibutuhkan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Alasan tersebut terletak pada
kebutuhan siswa terhadap pendekatan pembelajaran matematika yang lebih
kontekstual dengan basis budaya. Hal tersebut merupakan alasan utama, mengapa
muncul etnomatematika dalam dunia pendidikan di Indonesia. Memang,
etnomatematika merupakan hal yang cukup baru di Indonesia. Pembelajaran
etnomatematika muncul di Indonesia baru kurang lebih 10 tahun belakangan.
Sehingga dibutuhkan penelitian lebih mendalam agar pembelajaran etnomatematika
dapat dikembangkan dalam dunia persekolahan. Tentu saja perlu diingat bahwa
etnomatematika tidak semata-mata hanya sebagai bahan bagi guru untuk
menyampaikan materi matematika di sekolah. Kajian etnomatematika yang luas,
memberi dampak bagi para matematikawan untuk melakukan riset dan pengembangan
matematika dalam budaya. Sehingga, banyak aspek selain pendidikan yang dapat
dikembangkan melalui etnomatematika ini.
Indonesia
yang dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman budaya yang tinggi, tentu
menjadi sarana yang sangat luas agar etnomatematika dapat dikembangkan. Dalam
budaya yang ragam tersebut, ada beberapa hal yang dapat digunakan sebagai
pengembangan pembelajaran matematika. Budaya tersebut dapat dijadikan sebagai
bahan untuk mengembangkan konten (materi pembelajaran) matematika. Selain itu,
dapat juga digunakan sebagai sarana pengembangan RPP, silabus, metode,
pendekatan pembelajaran matematika.
Penerapan
etnomatematika sebagai pembelajaran matematika berbasis budaya tentu menjadi
salah satu langkah pemerintah dalam dunia pendidikan agar matematika dapat
lebih mudah dipahami. Sebagai matematikawan (dalam hal ini sebagai calon guru)
yang tidak hanya terbatas pada pengajaran, kita perlu memahami bagaimana
mengembangkan etnomatematika. Tahapan awal yang perlu dilakukan adalah
mengidentifikasi budaya yang ada di sekitar kita. Apa saja budaya yang dapat
dikaitkan dengan konsep dalam matematika, menjadi bahan yang sesuai untuk
mengembangkan etnomatematika. Tahapan selanjutnya adalah mengoperasikan konsep
matematika yang sesuai dengan budaya tersebut. Dua tahapan tersebut menjadi
langkah bagi kita agar dapat mengembangkan etnomatematika, terkhusus dengan
budaya yang kita miliki di Indonesia.
Sebagai
sebuah harapan, etnomatematika dijadikan sebagai batu pijakan bagi mereka yang
mempelajari konsep-konsep matematika. Konsep matematika dapat digambarkan
sebagai hal yang absurd, namun ketika dikaitkan dengan budaya melalui
etnomatematika, maka hal yang absurd tadi dijabarkan dalam hal yang lebih konkret
bagi masyarakat. Matematika yang seringkali dianggap susah, membingungkan,
bahkan tabu bagi beberapa orang, dapat dijabarkan dalam budaya yang sudah kita
kenal, budaya yang telah mengiringi perjalanan hidup kita. Sehingga,
etnomatematika merupakan prinsip ideal, di mana pembelajaran matematika dapat
berjalan lebih indah dan menyenangkan serta lebih mudah dipahami oleh
pembelajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar